Beranda » Buka Jasa Cuci Sepatu di Kos-kosan, Mikel Raup Laba Jutaan Rupiah

Buka Jasa Cuci Sepatu di Kos-kosan, Mikel Raup Laba Jutaan Rupiah

Bisnis cuci sepatu Clean Your Shoes 7 Malang

Bisnis cuci sepatu Clean Your Shoes 7 Malang

Ekomikro.comMenjalani bisnis dari nol bukan berarti tak penting. Ketekunan dan usahalah yang membuat bisnis itu kemudian terus berkembang. Hal itulah yang dilakukan Mikel Anggoro ketika menjalani usaha di bidang cuci sepatu, Clean Shoes 7 Malang.

Mikel mengaku memulai bisnisnya lantaran iseng. Kala itu, di kisaran tahun 2018, bisnis laundry sepatu sedang meledak di Malang, salah satu pionirnya yakni ShoesAndCare milik Dokter Tirta. Karena ketertarikannya itu, Mikel kemudian iseng membuka jasa cuci sepatu di kos-kosan.

“Jadi cuma melayani teman-teman sekolah, teman-teman sekelas, ditawarin dari mulut ke mulut,” ujar Mikel.

Bermodal awal Rp500.000 untuk membeli sikat, pembersih, silica gel, handuk microfiber, serta plastik pembungkus, usaha Mikel terus berkembang. Tak hanya melayani teman sekelas, Mikel yang kala itu masih sekolah dan mulai ikut organisasi juga menawarkan jasa cuci sepatunya ke teman-teman lingkungan organisasi.

Selain itu, dengan mengandalkan aplikasi layanan pesan singkat, dia pun menawarkan jasanya ke teman-teman SMA.

Deretan sepatu yang ada di Clean Shoes 37

Kala itu semuanya dia garap sendiri. Mulai dari proses pembersihan, penjemputan, hingga mengantar sepatu ketika selesai dibersihkan.

“Awalnya COD, garap di kos akhirnya kewalahan,” ujar dia.

Akhirya dia pun mengajak seorang teman untuk berkongsi dan membuka toko cuci sepatu di Jl. Bendungan Sutami No. 33A, Sumbersari, Kec. Lowokwaru, Malang pada akhir tahun 2019.

Dampak Pandemi Pada Bisnis Cuci Sepatu

Pandemi virus corona (Covid-19) yang terjadi di Indonesia turut mempengaruhi bisnisnya. Mikel yang awalnya memiliki dua karyawan untuk membantu jalannya usaha harus memangkas satu karyawannya. Mikel yang dalam sebulan biasanya bisa melayani hingga 100 pasang sepatu, kini hanya melayani perawatan 20 hingga 50 pasang sepatu dalam satu bulan.

“Maret, saat Malang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) enggak boleh keluar rumah, nah itu sekolah libur, gawean libur, jadi enggak ada yang masukin sepatu, nah di Malang kan pasarku anak SMA, anak kuliah yang kalau weekend pulang ke Malang,” ujar Mikel.

“Pekerja pun enggak sebanyak pelajar, semenjak pandemi libur sekolah jadi sepi, menurun, dan akhirnya nge-cut pegawai,” jelas dia.

Di masa pemulihan, untuk kembali membuat bisnisnya lebih bergairah, dia pun memberikan beberapa strategi promosi, serta menawarkan jasa antar jemput. Mikel seakan memulai dari awal untuk membangun bisnisnya agar pulih dari dampak pandemi.

“Mulai jemput bola kayak kemarin, karena orang enggak keluar rumah, selama area masih terjangkau, jadi jemput bola,” ujar dia.

Kini dia mengaku bisnisnya mulai membaik seiring dengan roda perekonomian daerah yang kembali berputar. Meski belum sepenuhnya pulih, dirinya pun bersyukur lantaran peminat mulai kembali berdatangan untuk menggunakan jasa layanan perawatan sepatunya.

“Alhamdulillah akhir-akhir ini orang mulai jenuh di rumah, ini mulai membaik, peminat mulai balik, cuma memang nggak seramai biasanya,” ujar Mikel.

Update lainnya melalui: https://instagram.com/ekomikro.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *