Beranda » UMKM Inovasi Baru, Muryani Warga Blitar Merubah Limbah Plastik Menjadi BBM

UMKM Inovasi Baru, Muryani Warga Blitar Merubah Limbah Plastik Menjadi BBM

Ekomikro – Limbah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang membahayakan bagi lingkungan. Limbah ini menjadi ancaman serius jika semakin banyak. Berupaya mengurangi penumpukan limbah plastik, Muryani (64) tahun warga Blitar menciptakan UMKM inovasi baru. Upaya ini dilakukan dengan mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan dan bisa menghasilkan uang. 

Ide bisnis UMKM ini muncul sudah lama dalam benak Muryani, berawal dari saat ia masih kelas lima Sekolah Dasar. Sadar bahwa atom itu memiliki kadar premium karena diberitahu oleh ayahnya. Pada tahun 2008, Ia mencoba meneliti hal tersebut dengan berbekal pengetahuan yang ia dapatkan.

Saat itu Ia mencoba mengolah dan mendaur ulang limbah plastik menjadi benda cair. Muryani mengatakan bahwa tidak semua plastik bisa menjadi BBM. Ada sekitar 25 persen jenis plastik yang tidak bisa diolah dan 75 persen jenis plastik yang bisa diolah.

“Plastik yang tidak bisa itu berjenis PET, plastik yang mengandung aluminium foil dan jas hujan sedangkan plastik yang bisa diolah berjenis PP, PE, HD, HDPE, LDPE dan masih banyak,” kata Muryani.

Tidak hanya sebatas limbah plastik saja, Muryani juga mulai mengembangkan limbah cair untuk dijadikan bahan pembuatan BBM alternatif ini. Misalnya saja minyak, oli dan limbah cair yang mengandung bahan kimia untuk BBM alternatif. Proses pembuatannya hal pertama yang dilakukan adalah memastikan bahwa plastik yang akan dijadikan bahan kering dan dicuci secara bersih.

“Jadi, untuk kunci utamanya itu bahannya kering, bersih biar hasilnya maksimal dan kemudian bisa dimasukan ke dalam mesin pembuatan selama 4 jam 15 menit dan kalau semisal basah itu bisa membengkak ke biaya operasional,” kata Muryani. 

Biaya operasional untuk mengelola UMKM bahan bakar alternatif  yang dimaksud itu adalah, ketika plastik yang digunakan masih basah maka membutuhkan lebih banyak bahan untuk pembakaran pada mesin pembuatan. Muryani setiap satu kali produksi itu biasanya dengan kapasitas 50 kilogram limbah plastik dengan catatan setiap 10 kilogram limbah itu menghabiskan satu tabung gas yang beratnya tiga kilogram, jika plastiknya basah itu bisa menghabiskan dua tabung gas. Sehingga, dalam proses pembuatan Ia harus berhati-hati dengan plastiknya agar tidak membengkak pada biaya operasionalnya. 

Dikutip dari suaramalang.id, dari 10 kilogram plastik, 60 persen diantaranya disuling menjadi solar, 25 persen menjadi premium, dan 15 persen menjadi minyak tanah. Untuk harga perliternya sendiri itu dibanderol Rp 7.000 untuk solar, dan Rp 8.000 untuk premium. Seperti kata Muryani dikutip dari Bangsaonline.com sebelum BBM naik Ia biasa menjual lima sampai sepuluh liter per harinya.

“Sebenarnya untuk hasilnya itu saya tidak terlalu fokus pada bisnis tapi untuk menjalankan kewajiban saya sebagai pasukan kuning ya untuk melestarikan lingkungan di sekitar sini, makanya untuk hasil dari penjualan BBM alternatif ini sebagian besar saya kembalikan lagi ke biaya operasional pembuatannya untuk melestarikan lingkungan sekitar sini. Jadi, saya tidak terlalu berfokus pada bisnis,” ujar Muryani.

Update lainnya: https://instagram.com/ekomikro.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *